Belakangan ini market sedang lesu, kalau kita buka aplikasi sekuritas atau cek portofolio crypto, suasananya memang sedang kurang bergairah. Pasar saham terasa jalan di tempat, sementara market crypto sedang berada di fase sideways cenderung turun (lesu). Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini sering kali memicu rasa cemas, panik, atau bahkan bosan setengah mati—terutama jika seharian hanya di rumah memperhatikan pergerakan grafik yang tidak ke mana-mana.
Sebagai seorang investor retail independen yang juga merasakan langsung dinamika pasar ini, saya ingin membagikan catatan jujur tentang bagaimana saya menyikapi portofolio saya di tengah kondisi market yang sedang bearish atau konsolidasi seperti sekarang.
1. Di Sisi Saham: Menikmati “Bantalan” dari Saham Blue Chip
Bagi saya, salah satu keputusan terbaik dalam mengelola keuangan adalah menempatkan porsi modal yang signifikan pada saham perbankan besar yang defensif, salah satunya adalah BBRI. Saat ini saya memegang 1400 lot saham BBRI.
Mengapa saya tidak panik ketika harga sahamnya berfluktuasi atau cenderung melemah mengikuti arus dana asing? Jawabannya sederhana: Dividen.
Tahun ini, BBRI membagikan dividen sekitar Rp209 per lembar saham. Dengan kepemilikan 140.000 lembar, ada arus kas bersih sekitar Rp29 juta yang masuk ke rekening. Menariknya, proyeksi dividen untuk tahun depan diperkirakan bisa meningkat hingga Rp340 per lembar, yang berarti potensi pasif income bisa menyentuh angka Rp47 jutaan.
Ketika market sedang lesu dan tidak memberikan capital gain (kenaikan harga), dividen bertindak sebagai jaring pengaman (safety net). Uang ini memastikan bahwa aset saya tetap bekerja dan memberikan hasil nyata, apa pun kondisi pasarnya. Fokus saya di saham ini adalah jangka panjang dan mengizinkan efek gulung (compounding) bekerja secara alami.
2. Di Sisi Crypto: Mengamankan Risiko dan Memaksimalkan Staking
Jika saham perbankan adalah kutub yang lambat dan aman, maka crypto adalah kutub yang agresif. Saat ini posisi terbesar saya ada di Bitcoin Futures (sekitar $44,000) dan sebagian lagi di Crypto Spot.
Harus diakui, menahan posisi di pasar futures saat market sedang lesu membutuhkan manajemen risiko dan ketahanan mental yang luar biasa ekstra. Kuncinya adalah jangan serakah. Ketika arah pasar belum jelas, menjaga margin ratio agar jauh dari titik likuidasi dan disiplin memasang stop loss adalah harga mati.
Sementara untuk porsi Crypto Spot (senilai sekitar Rp60 juta) yang sedang ikut memerah, alih-alih membiarkannya diam di dompet digital, saya memilih untuk memanfaatkannya melalui fitur Staking. Dengan melakukan staking di bursa resmi yang legal, aset crypto tersebut menghasilkan imbal hasil (bunga) harian. Ini adalah cara terbaik “membunuh waktu” di dunia crypto: membiarkan jumlah koin kita bertambah terus secara pasif sambil menunggu siklus pasar berikutnya berbalik arah (bull run).
Kesimpulan: Mengalihkan Fokus dari Grafik ke Produktivitas
Menghadapi market yang sedang lesu bukanlah tentang bagaimana kita memaksa pasar untuk naik, melainkan bagaimana kita mengendalikan emosi diri sendiri. Berdiam diri di rumah sambil menatap layar monitor setiap jam hanya akan merusak kesehatan mental dan memicu keputusan investasi yang impulsif.
Strategi terbaik saya saat ini adalah membiarkan uang bekerja otomatis lewat dividen dan staking, sementara saya mengalihkan fokus otak saya ke aktivitas produktif lain di luar investasi seperti membangun jurnal digital ini.
Bagaimana dengan portofolio Anda saat ini? Apakah Anda tipe yang panik saat market merah, atau justru memanfaatkan momen ini untuk mengumpulkan aset di harga diskon? Let’s survive and grow together.
Disclaimer: Blog ini adalah catatan dan analisis pribadi Aldo Prayoga untuk tujuan edukasi dan dokumentasi sendiri. Ini bukan ajakan atau saran finansial untuk membeli/menjual aset apa pun. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda. Do Your Own Research (DYOR).
